Selasa, 21 Februari 2012

Sahabatku


Saat cinta datang semua akan terasa indah, namun saat cinta itu pergi smua akan terasa menyakitkan. Begitulah cinta, indahnya hanya terasa di awal. Pada akhirnya semua akan kembali ke rulenya. “aduh, lg mikir apa sih aku.”ujarku sambil mengaruk kepalaku yang tidak gatal ataupun berketombe. ”vi..” panggil seseorang dari kejauhan. Aku masi memperhatikan siapa yang memanggilku. Maklum lah mataku ini minus 3 jadi aku harus sangat ekstra untuk melihat kejauhan. Ketika orang itu semakin mendekat, aku mulai menyadari siapa yang memanggilku tadi. “monica.” ucapku singkat setelah aku tau pasti orangnya.
 “vi, boleh minta tolong??” tanya gadis berambut pendek itu padaku. Aku menatapnya aneh dan mulai berfikir yang macam-macam. Maklum aja, monica ini adalah satu-satunya temanku yang selalu membuat aku repot dan susah. Bukan bermaksud menjelekkan, tapi itulah kenyataannya. Dulu sewaktu kami pulang sekolah, dya pernah meminta aku untuk menunggunya di kantin. Setelah hampir 1 jam aku menunggunya, tiba-tiba dya menghubungiku melalui ponsel dan dya Cuma berkata “vivi, aku ketemu cowok cakep banget di mall.” ucapnya bersemangat dengan nada tidak bersalah. Apa?? ucapku dalam hati seperti tersambar petir di siang bolong.
“vi.” ucap seorang gadis membuyarkan lamunanku. “mau apa??” jawabku ketus dengan muka sinis. “temenin aku ke suatu tempat ya??” ucapnya dengan muka yang sok imut dan tanpa rasa bersalah. “kemana??” jawabku singkat tanpa memandang kearahnya sama sekali. Lalu gadis itu duduk di sebelahku dan mulai berbicara serius. “ada deh pokoknya. Yang pasti bakal buat kamu seneng banget.” ucap monica dengan muka yang semakin berharap atau bisa diibaratkan seperti muka anak kecil yang meminta es krim ke mamanya. “gimana yaa?? ”ujarku sambil pura-pura berpikir. “please..” lanjut monica sambil menyatukan kedua telapak tanganya seperti sedang memohon. “oke deh.” jawabku sambil menghela nafas dan dengan raut muka yang kurang senang.
Sepulang sekolah kami segera menuju ke lapangan basket. Disana ada seorang pria yang tengah berdiri di tengah lapangan. Pria tersebut jika dilihat dari jauh seperti seseorang yang kukenal. Semakin kami mendekatinya semakin aku menyadari siapa pria tersebut. “don, ini vivi” ucap monica membuka pembicaraan diantara kami bertiga. “hai, vi” sapa pria itu padaku. “hai juga” ucapku singkat. “boleh aku ngomong sesuatu ke kamu??”tanya pria ini padaku. “ngomong aja.” ucapku singkat pada pria itu yang sebenarnya sudah kukenal sejak 2 tahun lalu.
“vi, aku tahu mungkin kamu nggak akan percaya dengan semua ucapanku ini, tapi aku nggak bisa lagi menahan perasaanku ini. aku nggak tahu sejak kapan aku memiliki perasaan ini. aku...” ucap pria didepanku ini dengan gugup. Lalu pria itupun melanjutkan ucapannya “aku suka sama kamu, vi. Mau nggak kamu jadi pacarku??” ucap pria itu sambil menatap kedua mataku. Mendengar ucapan pria didepanku ini aku serasa disambar petir. Aku nggak percaya, pria yang slama ini aku sukai secara diam-diam ternyata juga menyukaiku. Ini smua kenyataan atau Cuma mimipi?? Ujarku dalam hati. “gimana vi??” tanya pria yang bernama doni itu sambil mengenggam kedua tanganku.
“a....”ucapku terbata-bata dengan muka yang panik dan sedikit berkeringat. Aku berkeringat bukan karena ucapan doni melainkan karena kami tepat berada di tengah lapangan. tepat dibawah sinar matahari. “vi”ucap doni sambil menatapku dengan serius. aku menghela nafas lalu aku mulai berkata “jujur, aku memang menyukaimu.”ucapku sambil menatapnya. dya menatapku balik dan mendengarkanku dengan sangat serius. aku pun melanjutkan ucapanku “tapi itu dulu. Aku nggak tau gimana perasaan aku ke kamu saat ini.” ucapku sambil melepaskan kedua tanganku dari genggamannya. “oke. Aku akan nunggu sampai kamu siap untuk kasih jawaban ke aku.” tegas doni sambil tersenyum dan mengambil kedua tanganku lalu mencium kedua tanganku.
Malam ini aku merasa binggung sekali. Apa perasaanku ke doni masi sama atau sudah berbeda?? aku kembali teringat dengan masa laluku. Aku membayangkan kejadian yang dulu pernah terjadi antara aku, dya dan “raisa”. Yaa, raisa adalah sahabatku. Dulu kami selalu bersama baik suka ataupun duka. Kami seperti pinang dibelah dua, dimana ada aku pasti ada raisa dan dimana ada raisa pasti ada aku. Sampai saat ini aku masih sangat mengingatnya. Kejadian saat aku dan dya sedang berada dalam ruang rahasia kami. Kamu menyebut ruang rahasia ini dengan nama “kotak curhat”. Siang itu, aku dan raisa masuk kedalam ruang tersebut untuk saling curhat.
“vi” ucap raisa sambil tersenyum padaku. “kenapa sa??” jawabku singkat. “aku pernah cerita kan soal laki-laki yang dulu pernah nolong aku. Laki-laki yang akhirnya aku sukai.” ucap raisa sambil membayangkan wajah lelaki tersebut. “ya. Terus kenapa??” ujarku. “lelaki itu satu sekolahan dengan kita.” lanjut raisa sambil berjalan kearah jendela dan membukanya. “hah.. siapa??” ucapku kaget serasa tak percaya dengan ucapan sahabatku ini. “lelaki itu adalah doni.” ucap raisa sambil membalikkan badannya kearahku dan tersenyum riang. Apa?? aku benar-benar kaget dengan semua ini. aku nggak percaya kalau aku dan raisa... kami mencintai lelaki yang sama. Aku pun tertunduk lemas serasa ingin pingsan. Lalu raisa berjalan kearahku dan berkata “kamu kenapa vi?? Sakit ??” tanya raisa padaku dngan muka cemas. “aku nggak pa-pa.”jawabku singkat seraya berdiri lalu meninggalkan sahabatku di ruangan itu sendiri.
Satu kejadian lagi telah merubah hidupku dan sahabatku. Saat itu aku dan raisa sedang makan di suatu kafe. Lalu raisa mengenalkan aku pada cowok barunya. Dan kalian tahu siapa laki-laki itu?? Dia adalah doni, lelaki yang juga aku cintai. Aku benar-benar merasa seperti ditusuk oleh ribuan pisau. “vi, aku dan doni bakal tunangan setelah kita lulus sma. iya kan yank??” ucap raisa padaku seraya bertanya pada kekasih barunya yang tak lain dan tak bukan adalah doni. “ya.” jawab lelaki itu singkat dengan wajah tersenyum. Hatiku semakin terasa hancur berkeping-keping. Akupun segera meninggalkan mereka dan berlari ke arah luar dengan air mata yang mulai membasahi kedua pipiku.
Aku terus berlari dan berlari tanpa menghiraukan apa yang ada disekelilingku. Seorang wanita terdengar sayup-sayup memanggil namaku dari kejauhan namun aku tak menghiraukannya sampai terdengar suara klakson mobil yang semakin mendekat. Aku pun menoleh kearah suara klakson tersebut dan setelah itu yang aku tahu hanyalah aku didorong oleh seseorang hingga aku terjatuh dan tak sadarkan diri. Saat aku tersadar, aku kaget dengan apa yang diceritakan oleh monica. Raisa menyelamatkanku dengan mempertaruhkan nyawanya. Dan sekarang dya dalam keadaan kritis di meja operasi. Setelah mendengar cerita tersebut aku pun segera beranjak menuju ruang operasi.
 Aku berlari sekuat tenagaku dan saat aku berdiri didepan ruang operasi, aku hanya terpaku diam karena tepat didepanku 3 orang suster keluar membawa seseorang yang sudah ditutupi oleh selimut putih. Akupun segera memegang selimut putih itu seraya membukanya. Saat aku membuka selimut itu, ternyata yang ada dihadapanku kini adalah mayat sahabatku. Aku pun tak kuasa menahan air mata yang deras membasahi pipiku. aku menangis terisak-isak hingga aku pingsan. Setelah aku sadar, aku segera mencari raisa namun aku tersadar bahwa dya telah pergi untuk selamanya. Monica berusaha menenangkanku, Lalu monica memberikan secarik kertas padaku. Aku pun segera membuka kertas itu sambil terus menangis. Setelah aku membaca surat itu, air mataku semakin deras mengalir. Apa yang uda aku lakukan pada sahabatku?? Teriakku dalam hati.
Pagi ini, badanku terasa lemah sekali. Aku merasa tak bersemangat untuk sekolah. “dor” ucap seseorang padaku sambil menepu bahuku. Akupun segera menghapus air mataku seraya membalikkan badanku kearah monica. “kamu kenapa vi??” tanya monica panik. “nggak pa-pa kok.” ucapku singkat sambil menghapus sisa air mataku. “yang bener??” tanya monica sekali lagi serasa tak percaya dengan jawabanku. “iya” jawabku sambil menganggukkan kepala. “oiya, ada doni.” ucap monica sambil tersenyum. “apa??” ujarku kaget. “sebentar ya, aku panggil doni.” lanjut monica seraya berjalan ke arah luar kelas.
“vi, gimana?? Kamu mau jadi pacar aku??” ucap lelaki didepanku dengan wajah serius. Aku terdiam seraya menundukkan kepalaku. Kemudian aku kembali meneteskan air mataku. “vi” ucap doni dengan binggung. Lalu aku pun segera memberikan secarik kertas yang dulu diberikan raisa padaku. Doni pun segera membaca surat itu. “setelah aku membaca kembali surat ini, aku sadar bahwa aku nggak bisa menukar cinta dengan sahabat.” ucapku dengan air mata yang terus mengalir. “ya, aku ngerti.” ucap doni seraya pergi meninggalkanku. Akupun tertunduk lemas dan terus menangis.
Langit mendung menemaniku sore ini. Aku berjalan menuju suatu tempat yang sudah jarang kukunjungi. Sampailah aku ke tempat peristirahatan seseorang yang berharga untukku yaitu raisa. ya, aku berada di makam sahabatku. Lalu aku segera berdoa untuknya dan menabur bunga diatas makamnya kemudian aku teringat pada surat itu...
Vivi sahabatku,
Terima kasih untuk smua hari-hari yang pernah kita lewati bersama dengan bahagia
Terima kasih karena kau mau menjadi sahabat terbaikku
Terima kasih atas smua pengorbananmu padaku
Maaf jika aku pernah menyakiti perasaanmu
Maaf karena aku egois ingin memilikinya
Maafkan aku sahabatku..
Mungkin dunia ini memang tak adil
Namun, jikalau aku mengetahuinya lebih dulu
Aku pasti akan merelakannya untukmu karena kamu adalah sahabatku
            Terima kasih sahabatku. aku tahu kamu adalah sahabat terbaikku. Smoga kamu tenang di sisi-Nya. Akupun bergegas berdiri dan berjalan meninggalkan makam sahabatku diiringi oleh air hujan yang mulai menetes satu persatu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar